Selasa, 25 Januari 2011

Ciri Khas Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Ciri Khas Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

a. Masyarakat pedesaan

1. Sederhana

Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal:
a. Secara ekonomi memang tidak mampu
b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.

2. Mudah curiga
Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada:
a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya
b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”

3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”
Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila:
a. Bertemu dengan tetangga
b. Berhadapan dengan pejabat
c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan
d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi
e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya

4. Guyub, kekeluargaan
Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.

5. Lugas
“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.

6. Tertutup dalam hal keuangan
Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya.
7. Perasaan “minder” terhadap orang kota
Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.

8. Menghargai orang lain
Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.

9. Jika diberi janji, akan selalu diingat
Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami, khususnya terhadap janji-janji terkait dengan program pembangunan di daerahnya.

10. Demokratis
Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga.

11. Religius
Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan.

13. gotong-royong
Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain.
Contoh masyarakat pedesaan melakukan gotong-royong adalah saat sedang ada bencana , saat sedang kerja bakti , saat salah satu warganya mengalami kesusahan dll

b. Masyarakat perkotaan

Masyarakat perkotaan sering disebut juga dengan urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.

Ada beberapa ciri khas yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu :

1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan didesa. Kegiatan keagamaan hanya tampak ditempat-tempatperibadatan seperti dimasjid, gereja. Sedangkan diluar itu, masyarakat beada dalam lingkungan ekonomi dan perdagangan.cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan terhadap duniawi, bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan yg kehidupannya ke arah keagamaan.

2. Orang kota pada umumnya bisa mengurus dirinya sendiri tanpa harus berrgantung pada orang lain. Yang terpenting disini adalah manusia perorangan atau individu. Dikota-kota kehidupan keluarga sering sukar disatukan, sebab perbedaan kepentingan, paham politik, perbedaan agama. Dsb.

3. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata. Misalnya seorang pegawai negri lebih banyak bergaul rekan-rekannya dari pada dengan tukang becak, tukang kelontong atau pedagang kaki lima lainya. Begitu pula dengan mahasiswa yang lebih senang begaul dengan ssamanya dari pada harus dengan tingkatan yg lebih tinggi atau rendah.

4. Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa. Pekerjaan para warga desa lebih berifat seragam terutama dalam bidang bertani. Oleh karna itu pada masyaakat desa tidak banyak dijumpai pembagian kerja berdasaran keahlian. Lain halnya dikota, sehingga tidk hanya terbatas pada satu sektor pekerjaan. Singkatnya dikota lebih banyak jenis-jenis pekerjaan yg dapat dikerjakan oleh wrga-warga kota, mulai dari yang seerhana hingga bersifat teknologi.

5. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, mmenyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi.

6. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembbagian waktu yang lebih teliti sangat penting

7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka ddalam menerima pangaruh-pengaruh darri luar. Hal ini sering menimbulakan pertentangan golongan tua dan golongan muda.

c. Perbedaan desa dan kota

Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan-perbedaan yang ada mudah-mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut masyarakat desa dan kota antar lain :

1. Juumlah dan kepadatan penduduk.

2. Lingkungan hidup

3. Mata pencaharian.

4. Corak kehidupan sosial.

5. Stratifikasi sosial

6. Mobilitas sosial.

7. Pola interaksi sosial

8. Solidaritas sosial

9. Kedudukan dalam hirarki sistem administerasi nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar